Penulis: adminsuarakebangsaan

  • Persib Siap Gaspol! PSBS Biak Jadi Ujian Awal Putaran Kedua di GBLA

    Persib Siap Gaspol! PSBS Biak Jadi Ujian Awal Putaran Kedua di GBLA

    Suara Kebangsaan, BERITA JABARPersib Bandung bakal langsung tancap gas saat membuka putaran kedua BRI Super League 2025/2026. Maung Bandung dijadwalkan menjamu PSBS Biak di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu malam, 25 Januari 2026 pukul 19.00 Laga ini bukan sekadar pertandingan biasa, tapi jadi penanda serius: Persib ingin konsisten di papan atas, sementara PSBS datang dengan misi bertahan hidup.

    Bermain di kandang sendiri, Persib jelas lebih diunggulkan. Atmosfer GBLA, ribuan Bobotoh, serta posisi di klasemen membuat laga ini tampak ideal untuk mengamankan tiga poin. Namun, sepak bola jarang sesederhana itu.

    Persib Stabil, Percaya Diri, tapi Tetap Waspada

    Hingga akhir putaran pertama, Persib Bandung nyaman bercokol di papan atas klasemen dengan koleksi 38 poin dari 17 pertandingan. Catatan ini menegaskan posisi tim asuhan Bojan Hodak sebagai salah satu kandidat kuat juara musim ini.

    Meski bukan tim paling subur dalam urusan mencetak gol, Persib dikenal efektif dan disiplin. Organisasi permainan rapi, pertahanan solid, serta kemampuan mengontrol tempo jadi ciri khas Maung Bandung musim ini. Kemenangan penting atas Persija Jakarta dan PSM Makassar di akhir putaran pertama makin memperkuat mental tim.

    Namun, Bojan Hodak tidak ingin anak asuhnya terlena. Sang pelatih secara terbuka mengingatkan bahwa posisi klasemen sering kali menipu. Fokus dan kesiapan tetap jadi kunci, apalagi di laga pembuka putaran kedua yang biasanya rawan kejutan.

    Dengan dukungan penuh Bobotoh, Persib diprediksi tampil agresif sejak menit awal. Tekanan bertahap dan penguasaan bola akan menjadi senjata utama untuk memaksa PSBS keluar dari zona nyaman.

    PSBS Biak Datang dengan Modal Moral dan Tekad Bertahan

    Di atas kertas, PSBS Biak memang berada jauh di bawah Persib. Tim berjuluk Badai Pasifik saat ini masih tertahan di posisi ke-15 klasemen sementara dan terus berjuang menjauh dari zona degradasi.

    Namun, PSBS tidak datang ke Bandung dengan kepala tertunduk. Kemenangan telak 4-1 atas Bhayangkara FC pada laga terakhir putaran pertama menjadi suntikan moral besar. Hasil itu menunjukkan PSBS masih punya potensi, terutama di sektor serangan.

    Masalahnya, inkonsistensi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Lini pertahanan PSBS kerap rapuh dan mudah kehilangan fokus, terutama saat menghadapi tekanan terus-menerus. Bermain di GBLA dengan atmosfer besar jelas jadi ujian mental tersendiri.

    Kemungkinan besar, PSBS akan bermain lebih pragmatis. Bertahan rapat, menunggu celah, lalu mengandalkan serangan balik cepat. Strategi ini berisiko, tapi bisa jadi senjata jika Persib terlalu terbuka.

    Head to Head dan Prediksi Skor

    Dalam catatan pertemuan, Persib Bandung lebih dominan saat menghadapi PSBS Biak. Faktor kandang juga membuat Maung Bandung berada di posisi sangat menguntungkan. Secara kualitas skuad, pengalaman, dan konsistensi, Persib masih satu level di atas.

    Jika Persib mampu menjaga fokus dan tidak meremehkan lawan, peluang menang terbuka lebar. PSBS tetap berpotensi memberi perlawanan, tapi lebih realistis jika Persib yang mengendalikan permainan.

    Prediksi skor Persib Vs PSBS Biak:
    Persib Bandung 3-0 PSBS Biak
    Alternatif jika PSBS mencuri satu momen: 3-1 untuk Persib

    Sepak bola memang penuh kejutan. Tapi untuk laga di GBLA ini, logika masih berpihak pada Maung Bandung. Tinggal menunggu, apakah PSBS hanya lewat sebagai penantang, atau benar-benar membawa badai ke Bandung. (red)

  • Kabupaten Tasikmalaya: Transparansi Informasi Jangan Hanya Jargon

    Kabupaten Tasikmalaya: Transparansi Informasi Jangan Hanya Jargon

    Suara Kebangsaan, BERITA TASIKMALAYADorongan transparansi pengelolaan anggaran kembali mengemuka di Kabupaten Tasikmalaya. Kali ini, sorotan tidak berhenti pada keterbukaan dokumen APBD 2026, tetapi mengarah lebih jauh: apakah DPRD Kabupaten Tasikmalaya berani membuka seluruh jejak uang publik, termasuk pokok-pokok pikiran (pokir) para legislator?

    Isu ini mencuat setelah adanya tuntutan agar Perda APBD 2026 dan Peraturan Bupati (Perbup) Penjabaran APBD 2026 segera diunggah ke Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH). Namun bagi publik sipil, transparansi yang setengah-setengah justru berpotensi melahirkan kecurigaan baru.

    Dorongan DPRD: APBD Wajib Dibuka, Bukan Disimpan

    Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Komisi I, Asep Muslim, menegaskan bahwa keterbukaan APBD bukan sekadar formalitas administrasi. Menurutnya, regulasi anggaran yang telah ditetapkan harus segera dipublikasikan agar dapat diakses masyarakat luas.

    Ia menilai, keterlambatan atau pengabaian publikasi Perda APBD dan Perbup Penjabaran APBD 2026 di JDIH dapat berdampak serius terhadap kepercayaan publik. APBD, kata dia, adalah uang rakyat, sehingga publik memiliki hak penuh untuk mengetahui arah kebijakan dan prioritas belanja daerah.

    Dorongan tersebut sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang akuntabel serta arahan pemerintah provinsi terkait keterbukaan informasi anggaran daerah.

    Transparansi Jangan Setengah Jalan: Pokir DPRD Ikut Disorot

    Namun transparansi APBD dinilai belum cukup. Ahmad Mukhlis, Ketua SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), menegaskan bahwa jika DPRD Kabupaten Tasikmalaya serius bicara keterbukaan, maka pokir DPRD juga wajib dibuka ke publik.

    “Pokir itu bukan dokumen gelap. Itu bagian dari APBD dan proses perencanaan pembangunan daerah,” tegas Mukhlis.

    Ia merujuk Permendagri Nomor 6 Tahun 2018 Pasal 78 Ayat (3) yang menyebutkan bahwa pokir DPRD disampaikan secara tertulis kepada Kepala Bappeda. Artinya, pokir bersifat resmi, terdokumentasi, dan masuk dalam sistem perencanaan daerah.

    Menurut Mukhlis, membuka data pokir DPRD justru akan membantu publik menilai kinerja wakil rakyat secara objektif—bukan dari janji kampanye, melainkan dari usulan nyata yang diperjuangkan dalam anggaran.

    Uang Publik, Akuntabilitas Publik

    Keterbukaan anggaran, baik di level eksekutif maupun legislatif, dinilai sebagai kunci membangun kepercayaan publik. Transparansi dprd kabupaten tasikmalayat bukan hanya soal unggah dokumen, tetapi soal keberanian membuka proses, kepentingan, dan prioritas anggaran secara utuh.

    Jika hanya APBD yang dibuka sementara pokir DPRD tetap tertutup, maka transparansi berpotensi dipersepsikan sebagai formalitas. Publik tidak butuh transparansi nanggung—yang justru menimbulkan tanda tanya baru.

    Desakan ini sekaligus menjadi ujian komitmen DPRD Kabupaten Tasikmalaya: apakah transparansi benar-benar dijalankan sebagai prinsip, atau sekadar jargon? Dalam demokrasi lokal, keterbukaan menyeluruh bukan ancaman, melainkan fondasi kepercayaan. (red)

  • Longsor di Cisarua Bandung Barat melanda kawasan permukiman warga dini hari

    Longsor di Cisarua Bandung Barat melanda kawasan permukiman warga dini hari

    Suara Kebangsaan, Berita Bandung Barat – Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat mengguncang kawasan permukiman warga di Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari. Longsor yang disertai aliran air deras tersebut menerjang permukiman saat sebagian besar warga masih terlelap, setidaknya sampai saat berita ini diturunkan tercatat 6 (enam) orang meninggal dunia dan puluhan lainnya diduga masih tertimbun material longsoran.

    Data sementara yang dihimpun hingga Sabtu siang mencatat sebanyak 89 warga belum ditemukan dan diduga tertimbun tanah, bebatuan, serta lumpur yang meluncur dari lereng di sekitar permukiman. Proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung di tengah medan yang sulit dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat.

    Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, yang turun langsung ke lokasi bencana menyebutkan bahwa data tersebut berasal dari laporan Linmas dan pemerintah desa setempat.
    “Informasi yang saya terima, yang sudah dipastikan meninggal dunia ada lima orang, sementara 89 orang lainnya belum ditemukan dan diduga tertimbun longsoran,” ujar Asep di lokasi kejadian.

    Permukiman Tertutup Material, Evakuasi Berpacu dengan Waktu

    Dampak longsor sangat signifikan. Sedikitnya 20 rumah warga di Kampung Babakan RT 05 RW 11 terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, hanya satu rumah yang dilaporkan masih berdiri, sementara sisanya tertimbun material longsor dengan ketebalan yang bervariasi.

    Material tanah dan bebatuan menutup hampir seluruh area permukiman, membuat akses menuju titik-titik korban menjadi sangat terbatas. Medan yang curam, licin, dan tidak stabil menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Setiap langkah evakuasi dilakukan dengan ekstra hati-hati untuk menghindari risiko longsor susulan.

    Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Bandung Barat, TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Alat berat mulai diturunkan secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi medan agar tidak membahayakan korban yang diduga masih hidup di bawah timbunan.

    “Tim SAR terus bekerja di lapangan. Kami berharap seluruh korban bisa segera ditemukan dan dievakuasi,” kata Asep.

    Pengungsian Warga dan Kepedulian Kemanusiaan

    Untuk penanganan warga terdampak, pemerintah daerah telah menyiapkan lokasi pengungsian sementara di wilayah Desa Pasirlangu. Warga yang selamat dievakuasi guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan, mengingat kondisi tanah masih labil akibat curah hujan tinggi.

    Asep Ismail memastikan kesiapan lokasi pengungsian bersama Camat Cisarua, termasuk ketersediaan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Namun di tengah situasi darurat ini, kepedulian semua pihak menjadi faktor penting dalam meringankan beban para korban.

    Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat ini bukan sekadar angka korban dan rumah rusak, tetapi tragedi kemanusiaan yang menyisakan duka mendalam. Banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya, kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan seluruh harta benda dalam hitungan menit.

    Peristiwa ini menjadi panggilan nurani bagi masyarakat luas untuk peduli. Bantuan logistik, kebutuhan darurat, hingga dukungan moril sangat dibutuhkan oleh para korban yang kini bertahan di pengungsian.

    Imbauan Waspada di Tengah Cuaca Ekstrem

    Pemerintah daerah mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana, untuk meningkatkan kewaspadaan. Kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi masih berpotensi memicu bencana serupa.

    “Kesiapsiagaan menjadi hal utama. Kami meminta masyarakat untuk segera melapor dan mengungsi jika melihat tanda-tanda longsor,” ujar Asep.

    Hingga kini, proses pencarian korban masih terus dilakukan. Waktu, cuaca, dan kondisi medan menjadi faktor penentu. Di tengah upaya penyelamatan, harapan dan kepedulian publik menjadi energi penting bagi para korban dan petugas di lapangan.

    Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan hasil pengamatan awal di lokasi menunjukkan adanya alih fungsi lahan. Kawasan yang sebelumnya merupakan hutan atau kebun dengan tanaman keras, kini berubah menjadi lahan pertanian palawija.

    “Kawasan ini dulunya ditanami tanaman keras. Namun saat ini sebagian besar sudah menjadi kebun palawija. Ketika hujan deras turun, ditambah adanya aliran air meskipun kecil, sangat dimungkinkan terjadi bendungan alami dari batu dan kayu yang kemudian jebol,” ujar Herman saat meninjau lokasi longsor, Sabtu, 24 Januari 2026.(red)

  • Pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum 2026

    Pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum 2026

    suarakebangsaan.com, BERITA NASIONAL. Pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) 2026 menjadi penegasan posisi Indonesia di tengah dinamika global yang kian kompleks. Di hadapan para pemimpin dunia dan pemangku kepentingan internasional, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia secara sadar memilih jalan perdamaian, bukan kekacauan.

    Dalam pidatonya di Davos, Kamis (22/1/2026) waktu setempat, Presiden Prabowo menyampaikan pesan utama yang menjadi benang merah arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan. “Jika ada satu hal yang bisa diambil dari pidato saya hari ini, inilah pesannya: Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan,” ujar Prabowo.

    Pidato Presiden Prabowo tersebut tidak hanya menegaskan sikap politik luar negeri, tetapi juga mencerminkan cara pandang Indonesia terhadap dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik, ketegangan geopolitik, dan krisis lingkungan. Prabowo menekankan bahwa Indonesia ingin hadir sebagai mitra yang bersahabat bagi semua negara, tanpa memosisikan diri sebagai ancaman bagi siapa pun.

    Presiden kembali mengutip peribahasa yang kerap ia sampaikan dalam berbagai forum internasional, yakni “Seribu sahabat terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.” Prinsip inilah, menurut Prabowo, yang menjadi dasar Indonesia untuk terus menjalin hubungan baik dengan semua pihak, terlepas dari perbedaan kepentingan dan latar belakang.

    Lebih jauh, pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 juga menyinggung tanggung jawab global Indonesia dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan. Ia menekankan bahwa perdamaian tidak dapat dilepaskan dari kebijakan publik yang kredibel dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Indonesia, kata Prabowo, ingin menjadi tetangga yang baik, warga dunia yang bertanggung jawab, serta bagian dari solusi atas tantangan global.

    Dalam konteks lingkungan, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk hidup berdampingan dengan alam. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan masa depan planet. “Kita tidak boleh menghancurkan alam. Kita harus hidup berdampingan dengan alam dan menjadi bagian dari masa depan yang penuh harapan,” tegasnya.

    Menutup pidatonya, Presiden Prabowo mengajak para pemimpin dunia untuk membangun masa depan yang damai dan inklusif secara bersama-sama. Ia menyerukan kerja sama lintas negara, lintas budaya, dan lintas agama demi meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Menurut Prabowo, dunia yang ideal adalah dunia yang diwarnai perdamaian, kebebasan, persahabatan, toleransi, serta hidup berdampingan dalam semangat saling menghormati.

    Pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum 2026 tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang memilih diplomasi, kerja sama, dan tanggung jawab global di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Singkatnya: Indonesia datang ke panggung global bukan membawa otot, tapi akal sehat.

  • Suara Kebangsaan: Ketika Media Tak Sekadar Memberi Kabar

    Suara Kebangsaan: Ketika Media Tak Sekadar Memberi Kabar

    suarakebangsaan.com, EDITORIAL. Di tengah derasnya arus informasi hari ini, berita datang silih berganti. Cepat, padat, kadang viral—namun sering kehilangan arah. Di sinilah Suara Kebangsaan memilih berdiri: bukan sekadar sebagai penyampai kabar, melainkan sebagai penjaga akal sehat publik dan penyambung kepentingan bangsa.

    Suara Kebangsaan lahir dari kesadaran sederhana tapi mendasar: tidak semua yang ramai itu penting, dan tidak semua yang penting selalu ramai. Banyak isu strategis bangsa yang luput dari sorotan karena kalah oleh sensasi. Sebaliknya, tak sedikit kegaduhan yang dibesarkan meski dampaknya minim bagi kepentingan publik. Media, dalam situasi seperti ini, diuji bukan oleh kecepatan semata, tetapi oleh keberpihakan pada kepentingan yang lebih besar.

    Suara Kebangsaan tidak menempatkan diri sebagai media yang “netral tanpa makna”. Kami memilih berpihak, namun dengan satu syarat utama: berpihak pada kepentingan bangsa, kepentingan publik, dan nilai-nilai kebangsaan yang dijunjung konstitusi.

    Berpihak bukan berarti membela kekuasaan, dan kritis bukan berarti membenci pemerintah. Dalam pandangan kami, kritik adalah bentuk paling jujur dari kepedulian. Apresiasi pun harus lahir dari data dan kinerja, bukan dari kedekatan. Di sinilah garis editorial Suara Kebangsaan ditarik dengan tegas: faktual dalam berita, jernih dalam analisis, dan berani dalam sikap.

    Sebagai media, Suara Kebangsaan menyajikan berita yang berpegang pada fakta, verifikasi, dan etika jurnalistik. Namun kami juga membuka ruang opini—bukan untuk gaduh, melainkan untuk memperkaya perspektif publik.

    Opini di Suara Kebangsaan bukan panggung maki-maki, apalagi propaganda murahan. Ia adalah ruang gagasan, adu argumen berbasis data, dan refleksi kritis atas perjalanan bangsa. Kami percaya, bangsa yang besar bukan bangsa yang selalu sepakat, tetapi bangsa yang mampu berbeda pendapat secara beradab.

    Suara Kebangsaan tidak dibangun untuk melayani kepentingan kelompok, elite, atau klik tertentu. Kami sadar, godaan itu selalu ada. Namun sejak awal kami menegaskan: independensi redaksi adalah harga mati.

    Iklan, kekuasaan, dan popularitas tidak boleh mengatur arah suara. Jika suatu kebijakan benar, kami katakan benar. Jika keliru, kami kritisi. Sederhana, meski tidak selalu mudah. Tapi kalau media takut tidak disukai, lalu siapa yang berani menyampaikan kebenaran?

    Lebih dari sekadar dibaca, Suara Kebangsaan ingin dipikirkan. Kami ingin pembaca berhenti sejenak, mencerna, lalu bertanya: “Apa dampaknya bagi bangsa ini?” Jika setelah membaca orang menjadi lebih kritis, lebih sadar, dan lebih peduli—maka fungsi media telah bekerja.

    Di era ketika judul sering lebih penting dari isi, Suara Kebangsaan memilih jalan yang mungkin tidak selalu paling riuh, tapi paling relevan. Karena bangsa ini tidak kekurangan suara, yang kurang justru suara yang jujur dan berpikir jauh ke depan.

    Suara Ini untuk Bangsa

    Suara Kebangsaan hadir bukan sebagai hakim, bukan pula sebagai pemandu tunggal. Kami adalah bagian dari ekosistem demokrasi yang sehat—menyampaikan fakta, membuka ruang dialog, dan menjaga agar kepentingan bangsa tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk sesaat.

    Ini adalah suara yang kami rawat. Bukan untuk hari ini saja, tetapi untuk masa depan.
    Karena ketika media kehilangan keberanian dan nurani, bangsa kehilangan arah.

    Dan Suara Kebangsaan memilih untuk tetap bersuara—demi bangsa yang kami cinta.

  • Indonesia: Tempat Terindah di Muka Bumi

    Indonesia: Tempat Terindah di Muka Bumi

    suarakebangsaan.com, WAWASAN KEBANGSAAN. Hampir di setiap kesempatan menjadi narasumber materi wawasan kebangsaan, khususnya jika audience-nya remaja seusia SMA, saya selalu awali dengan melontarkan pertanyaan sederhana di bawah ini:

    “Andai Anda diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa lahir kembali, kira-kira Anda mau lahir di negara mana?”

    Anda bisa terka, kira-kira kebanyakan dari mereka menjawab negara mana? Yang pasti, mereka tidak memilih negaranya sendiri. Berdasarkan ingatan saja, paling hanya sekitar 10% saja dari mereka yang memilih tetap lahir di Indonesia. Itupun, mereka sampaikan dengan setengah berbisik!

    Lain halnya dengan mereka yang memilih negara lain, sebagian bahkan menjawab dengan setengah berteriak, seraya mengangkat tangan mereka. Semangat sekali. Korea! Jepang! Eropa! Arab! Saking ingin meyakinkan saya, mereka mengulang-ulang jawabannya. Korea, Pak! Saya Korea! Begitu. Suasana tiba-tiba riuh biasanya.

    Lalu, saya minta semua remaja itu, untuk melihat ke layar proyektor. Di sana saya menampilkan gambar ilustrasi bola dunia, yang secara garis besar dibagi menjadi tiga wilayah; wilayah utara, wilayah tengah dan wilayah selatan. Lalu, saya suguhkan pertanyaan selanjutnya untuk mereka. Begini pertanyaannya:

    “Kira-kira menurut Anda, di bagian bumi yang mana, yang paling nyaman untuk tempat tinggal makhluk hidup? Bukan hanya manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan.”

    Biasanya, suasana respon mereka sudah tidak seriuh pertanyaan pertama. Semua sepakat, bagian bumi yang paling nyaman untuk kehidupan tentu saja di bagian tengah. Ada matahari di sana, cuaca sangat nyaman, dan mayoritas flora dan fauna pun berada di tengah. Semakin ke utara, semakin ekstrim, semakin tidak nyaman untuk kehidupan manusia. Begitupun dengan selatan, kurang lebih sama dengan wilayah utara.

    Selanjutnya saya perlihatkan banyak foto di layar, bagaimana suasana kehidupan di wilayah utara dan selatan. Ada foto yang memperlihatkan seorang warga di Eropa sedang meratapi rumahnya yang tertimbun salju hingga ke bagian genting. Rumahnya saja tertimbun, apalagi kendaraan dan barang-barang lainnya. Ada foto tanah luas yang retak-retak, akibat cuaca ketika musim panas tiba. Bahkan, ada foto beberapa orang warga yang sedang memperhatikan rel kereta api. Ternyata, mereka sedang fokus membahas besi rel yang memuai (melengkung), gara-gara suhu tinggi di musim panas.

    Lalu ada juga foto sebuah gedung yang didalamnya dipakai untuk menanam sayuran. Dari mulai tanah, ketersediaan air, kebutuhan cahaya, kelembaban, semuanya harus dimanipulasi dalam gedung. Karena kalau ditanam di luar, niscaya banyak tanaman tersebut yang tidak bisa dipanen lantaran mati oleh cuaca ekstrim. Bandingkan dengan di negara kita. Banyak sayuran yang terkadang tumbuh begitu saja, dimana saja, tanpa ada yang menyengaja menanamnya. Kangkung misalnya.

    Para remaja itu, biasanya mulai tertegun. Mungkin mulai berfikir, tanah yang mereka pijak adalah seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk hidup mereka. Tapi kenapa sepertinya mereka tidak betah?

    “Apakah kalian sepakat, kalau saya katakan, Indonesia, negeri tempat kalian lahir dan tumbuh, adalah salah satu tempat yang nyaman untuk kehidupan?”

    “Sepakaaat!” Jawab mereka.

    “Saya sendiri tidak sepakat!” Biasanya sebagian dari mereka kaget, atau ada juga yang bertanya. Kenapa justru saya tidak sepakat?

    “Karena menurut saya, Indonesia, tanah air kita ini, bukan salah satu tempat yang nyaman di muka bumi. Tapi, tempat TER-nyaman di dunia!” Ketika saya tegaskan seperti itu, biasanya ada satu-dua wajah yang menyangsikan pendapat saya.

    Kita sepakat, bahwa tempat ternyaman di muka bumi adalah di wilayah tengah. Tapi sadarkah kita, dari sekitar 200 negara yang terhampar di permukaan bumi ini, Alloh SWT hanya memberikan berkah khatulistiwa, untuk memiliki tempat di wilayah tengah, hanya pada 13 negara saja!

    Ke-13 negara tersebut, tersebar di berbagai belahan dunia. Ada tiga negara di Benua Amerika, yakni Kolumbia, Ekuador dan Brazil. Lalu tujuh negara di Benua Afrika, yakni Sao Tome, Republik Kongo, Uganda, Somalia, Kenya, Republik Demokratik Kongo dan Gabon. Lalu ada dua negara kecil yang lokasinya berada di tengah samudera, yakni Maldives dan Kiribati. Sisanya, satu lagi, negara kita, Indonesia.

    Dari 13 negara khatulistiwa tersebut, hanya ada dua negara yang wilayah luas, yakni Indonesia dan Brazil. Lalu silahkan perhatikan di peta, Brazil itu sebagian wilayahnya sudah mulai masuk ke area selatan. Berbeda dengan Indonesia, silahkan perhatikan dengan seksama, wilayah Indonesia benar-benar berada di garis khatulistiwa, hampir simetris antara utara dan selatan. Lalu kalau dibandingkan lagi, Brazil itu mayoritas daratan. Sementara Indonesia adalah kepulauan. Tentu, sumber daya yang dimiliki jauh lebih banyak negara kepulauan.

    Jadi mulai hari ini, sadari dengan sesadar-sadarnya. Kita bukan saja tinggal di sebuah wilayah strategis yang kata ibu guru di sekolah dasar dulu, diapit oleh dua samudera dan dua benua. Bukan cuma itu. Kita adalah manusia yang dipercaya Alloh SWT untuk menjadi penghuni, sekaligus penjaga, tempat terbaik di muka bumi!

  • Banjar dan Ciamis memangkas tunjangan DPRD. Publik menanti sikap DPRD Tasikmalaya.

    Banjar dan Ciamis memangkas tunjangan DPRD. Publik menanti sikap DPRD Tasikmalaya.

    Suara Kebangsaan, Berita Tasikmalaya – Langkah Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis memang tidak dibungkus seremoni atau narasi pencitraan. Namun justru karena itulah kebijakan tersebut terasa kuat. Di tengah tekanan fiskal yang kian nyata, dua daerah ini memilih langkah jarang ditempuh: memangkas langsung tunjangan DPRD. Kebijakan ini pun memantik sorotan publik, termasuk terhadap tunjangan anggota DPRD Tasikmalaya yang hingga kini belum tersentuh kebijakan serupa.

    Langkah DPRD Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis

    Di Kota Banjar, pemangkasan tunjangan pimpinan DPRD menjadi sinyal bahwa krisis keuangan daerah tidak lagi dibebankan sepihak kepada ASN dan PPPK. Setelah aparatur sipil lebih dulu merasakan pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), kini wakil rakyat diminta ikut berbagi beban. Kebijakan ini membuka ruang diskusi publik yang selama ini cenderung dihindari, yakni sejauh mana DPRD siap menanggung konsekuensi krisis fiskal.

    Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Tahun 2025 atas LKPD Kota Banjar Tahun Anggaran 2024, belanja gaji dan tunjangan DPRD dianggarkan sebesar Rp16,05 miliar, dengan realisasi sekitar Rp14,65 miliar untuk 30 anggota DPRD. Angka tersebut menegaskan bahwa pos tunjangan DPRD bukanlah angka kecil, sehingga wajar jika menjadi perhatian publik ketika efisiensi anggaran digaungkan.

    Sementara itu, Kabupaten Ciamis melangkah lebih jauh. Penurunan Kemampuan Keuangan Daerah (KKD) dari kategori tinggi ke sedang dijadikan dasar untuk memangkas Tunjangan Komunikasi Insentif (TKI) anggota dan pimpinan DPRD. Anggota DPRD kini menerima Rp10,5 juta per bulan sebelum pajak, turun Rp4,2 juta. Pimpinan DPRD bahkan mengalami pemangkasan hingga Rp8,4 juta per bulan.

    Kebijakan tersebut berlaku sejak Januari 2026 dan dilakukan bersamaan dengan pemotongan TPP ASN sebesar 10 persen. Artinya, kebijakan efisiensi tidak berhenti di lapisan bawah birokrasi, tetapi menyentuh elite politik daerah.

    Sekretaris Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif (SWAKKA), Asep Ishak, menilai langkah Banjar dan Ciamis menyentuh inti persoalan. “Begitu menyentuh tunjangan, itu bukan lagi soal administrasi, tapi kemauan berbagi beban,” ujarnya.

    Kini, sorotan publik mulai mengarah ke Tasikmalaya. Dengan tekanan fiskal yang juga dirasakan, publik mempertanyakan apakah tunjangan anggota DPRD Tasikmalaya akan ikut dievaluasi atau tetap berada di luar agenda efisiensi. (red)

  • Warga Garut Butuh Pertolongan, Negara Diharapkan Hadir Sebelum Harapan Habis

    Warga Garut Butuh Pertolongan, Negara Diharapkan Hadir Sebelum Harapan Habis

    Suara Kebangsaan, Berita Garut – Tidak semua warga memiliki kekuatan untuk bersuara keras. Sebagian memilih berbicara pelan, seperti yang dilakukan Pirmansyah dalam sebuah video sederhana yang kini menyentuh banyak hati.

    Warga Garut Butuh Pertolongan,

    Sebagai warga Jawa Barat, mereka tidak meminta banyak. Tidak juga berpanjang kata. Mereka hanya ingin menyampaikan satu kenyataan pahit yang sudah lama mereka pikul: anak mereka sakit, dan mereka mulai kehabisan tenaga untuk bertahan sendiri.

    Sang suami bernama Pirmansyah, usianya diperkirakan sekitar 50 hingga 55 tahun. Ia duduk di samping istrinya, Isoh Nurjanah, yang sejak awal lebih banyak terdiam. Tatapannya kosong, seperti orang yang sudah terlalu sering berharap, lalu belajar menahan kecewa.ia tidak menuntut kemewahan. Ia hanya meminta bantuan agar anaknya yang mengalami gangguan kejiwaan bisa mendapatkan penanganan layak.

    Pesan Tanpa Amarah

    Dalam video berdurasi 1 menit 18 detik, tidak ada kemarahan. Tidak ada tudingan. Pirmansyah menjelaskan bahwa anak mereka saat ini mengalami gangguan kejiwaan. Sudah lama. Sudah dicoba berbagai cara. Sudah dibawa berobat ke sana kemari. Namun hingga hari ini, kondisi sang anak belum juga membaik.

    Pirmansyah sehari-hari bekerja sebagai pasapon, tenaga kebersihan di SMA 23 Pakenjeng, Kabupaten Garut. Penghasilannya tidak besar. Cukup untuk makan, cukup untuk bertahan—asal semua berjalan normal. Tapi ketika perhatian harus tercurah penuh pada anak yang sakit, pekerjaan pun sering terganggu. Hari-hari menjadi serba sulit. Pilihannya tidak pernah mudah: bekerja atau mendampingi anak.

    Video itu bukan dibuat oleh mereka sendiri. Yang mengirimkannya ke redaksi Lintas Priangan adalah tetangga mereka. Seorang warga yang melihat dari dekat bagaimana pasangan ini berjuang dalam diam.

    Identitas Jelas, Bukan Cerita Samar

    Alamat keluarga ini jelas. yaitu: RW 10 Kampung Dandeur, Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut. Kondisi anak juga terdokumentasi. Ini bukan kisah anonim di media sosial, melainkan kenyataan yang membutuhkan respons nyata.

    Saatnya Negara Menjawab

    Kisah ini seharusnya tidak berhenti sebagai cerita haru. Negara, melalui pemerintah daerah dan instansi terkait, diharapkan hadir sebelum keluarga ini benar-benar kehabisan harapan.

    Kadang, pertolongan yang datang tepat waktu bisa menyelamatkan lebih dari satu kehidupan. (red)

  • Gibran di Cipasung Tasikmalaya, Ketika Pesantren Menyapa Masa Depan Digital

    Gibran di Cipasung Tasikmalaya, Ketika Pesantren Menyapa Masa Depan Digital

    Suara Kebangsaan, Berita Tasikmalaya – Pesantren Cipasung, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat pendidikan Islam tradisional, kini memasuki babak baru. Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi penanda perubahan itu.Agenda gibran di cipasung tasikmalaya bukan sekadar silaturahmi, melainkan titik awal transformasi digital pesantren.

    Misi di Balik Kunjungan

    Sejak sepekan sebelum kunjungan, pelatihan AI dan robotik telah digelar. Ratusan santri Pesantren Cipasung Tasikmalaya terlibat aktif, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap teknologi.

    Ketua Panitia Kunjungan, Hj Neng Irma Ruhyati, menjelaskan bahwa jauh sebelum hari kunjungan, Tim Staf Khusus Wakil Presiden telah mengirim instruktur ke Pesantren Cipasung untuk memberikan pelatihan literasi digital, AI, dan robotik kepada santri serta asatiz.

    “Mas Wapres ingin santri dan para ustaz melek teknologi. AI bukan ancaman, tapi alat bantu pembelajaran,” ujar Neng Irma.

    Pelatihan tersebut berlangsung sejak pekan lalu dengan skema hybrid. Untuk kelas AI, tercatat lebih dari 200 santri mengikuti pelatihan, sementara kelas robotik diikuti 30 santri terpilih dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI hingga SMA.

    Pesantren Berbasis Teknologi

    Dengan dukungan berbagai pihak, Pesantren Cipasung menargetkan deklarasi sebagai pesantren berbasis teknologi, menjadikannya pionir di Tasikmalaya.

    Bagi dunia pesantren, langkah ini menjadi momentum penting. Sebab, baru kali ini pelatihan AI dan robotik diterapkan secara terstruktur di lingkungan pesantren besar di Tasikmalaya.

    Kunjungan Gibran ke Cipasung pun dipandang sebagai sinyal kuat bahwa pesantren di Tasikmalaya siap melangkah ke masa depan—tetap berakar pada nilai, namun tidak alergi pada teknologi.

    Masa Depan yang Berakar Nilai

    Kunjungan ini menegaskan bahwa pesantren tidak alergi teknologi. Justru, dengan nilai yang kuat, pesantren siap menjadi motor perubahan.

  • Swasembada Pangan Tasikmalaya Diperkuat Lewat Program Satu Siswa Satu Pohon

    Swasembada Pangan Tasikmalaya Diperkuat Lewat Program Satu Siswa Satu Pohon

    Suara Kebangsaan, BERITA TASIKMALAYAPemerintah Kabupaten Tasikmalaya semakin serius menata arah pembangunan ketahanan pangan jangka panjang. Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah peluncuran program Satu Siswa Satu Pohon yang menjadi bagian dari strategi besar swasembada pangan Tasikmalaya berbasis sekolah.

    Program tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, saat kunjungan kerja di Kecamatan Cikalong, Senin (19/1/2026). Kegiatan ini juga melibatkan Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

    Kebijakan Lingkungan yang Terintegrasi

    Bupati Cecep menegaskan bahwa program satu siswa satu pohon bukan kebijakan yang berdiri sendiri. Program ini merupakan turunan langsung dari Instruksi Bupati Tasikmalaya tentang Penghijauan dan Kelestarian Lingkungan Sekolah, sekaligus penguatan agenda Tasik Hejo.

    “Pembangunan daerah harus terintegrasi. Lingkungan dijaga, pangan diperkuat, dan generasi muda diedukasi. Semua saling berkaitan,” ujar Cecep.

    Melalui pendekatan ini, Pemkab Tasikmalaya berupaya memastikan bahwa swasembada pangan tidak hanya berbasis produksi, tetapi juga berbasis kesadaran dan keberlanjutan.

    Sekolah sebagai Instrumen Strategis

    Pemilihan sekolah sebagai basis program dinilai strategis karena mampu menjangkau lapisan masyarakat paling dasar. Siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

    Empat sekolah di wilayah selatan Tasikmalaya ditetapkan sebagai lokasi awal implementasi, yakni SDN Cijulangadeg, SMPN 1 Cikalong, SMPN 2 Cikalong, dan SDN Kalapagenep. Ke depan, model ini direncanakan akan diperluas ke sekolah-sekolah lain.

    Menjaga Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan

    Selain aspek lingkungan, program ini juga diarahkan untuk mendukung stabilitas harga pangan daerah. Dengan meningkatnya kesadaran menanam dan memanfaatkan lahan, pemerintah berharap tekanan terhadap pasokan pangan dapat ditekan.

    Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Forkopimda, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat, memperkuat posisi program ini sebagai kebijakan publik yang inklusif.

    Pemkab Tasikmalaya optimistis, langkah ini akan menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya swasembada pangan Tasikmalaya yang mandiri, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan generasi muda. (red)