Tembus Hackclub Campfire di Jakarta, Siswa Tasikmalaya Ini Berjuang Nyaris Tanpa Dukungan

Suara Kebangsaan, BERITA TASIKMALAYA – Di saat isu transformasi digital terus digaungkan, kisah seorang pelajar 14 tahun asal Tasikmalaya menghadirkan potret berbeda di lapangan. Arkanurrizky A.H, siswa SMP Negeri 1 Tasikmalaya, berhasil menembus ajang Hackclub Campfire yang digelar di Perpustakaan Jakarta Cikini pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Hack Club tersebut diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai daerah, mayoritas berasal dari Jabodetabek. Di antara puluhan peserta dari kota-kota besar, hadir seorang pelajar dari Tasikmalaya yang membawa karya sekaligus mimpi besar di bidang teknologi.
Namun di balik partisipasinya dalam Hackclub Campfire, terdapat cerita yang tak kalah penting: perjuangan mengikuti ajang nasional dengan dukungan yang dinilai belum maksimal dari lingkungan pendidikan formal.
Dua Hari Adu Kreativitas di Hackclub Campfire
Hackclub Campfire berlangsung selama dua hari dengan format game jam. Peserta ditantang untuk merancang, membangun, dan menyempurnakan sebuah game dalam waktu terbatas.
Arkanurrizky memilih mengembangkan game ber-genre exploration bertema “ikan makan ikan”. Game tersebut mengajak pemain menyelami dunia bawah laut, bertahan hidup dengan memangsa ikan yang lebih kecil dan menghindari predator yang lebih besar.
Konsepnya memang sederhana, tetapi eksekusinya membutuhkan logika pemrograman, desain sistem level, serta pemahaman mekanisme progresi karakter. Seluruh proses penyempurnaan dilakukan secara intensif selama dua hari pelaksanaan Hackclub Campfire.
Event ini terbuka untuk umum tanpa proses seleksi khusus. Baik pemula maupun yang sudah berpengalaman dapat berpartisipasi. Model ini memberi ruang luas bagi pelajar untuk belajar langsung melalui praktik dan kolaborasi.
“Saya ingin menambah pengalaman game jam dan memperluas networking dengan sesama game developer,” ujar Arkanurrizky.
Rekam Jejak yang Konsisten
Keikutsertaan di Hackclub Campfire bukan langkah pertamanya. Ia telah mengikuti sekitar 10 kompetisi serupa, baik secara daring maupun luring.
Dari sejumlah ajang tersebut, ia berhasil meraih kemenangan di tiga kompetisi: G4C Student Challenge (online), Uni GameJam (online), dan International Environmental Coding Competition yang digelar di Bandung.
Capaian tersebut menunjukkan konsistensi dan keseriusan dalam menekuni bidang pengembangan game. Di usia 14 tahun, Arkanurrizky sudah terbiasa membangun proyek digital dan bersaing dengan pelajar dari berbagai kota.
Minim Dukungan Formal Jadi Sorotan
Meski memiliki rekam jejak kompetisi yang jelas, dukungan formal dinilai belum sebanding dengan upaya yang dilakukan.
Keluarga Arkanurrizky mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada apresiasi khusus dari pihak manapun. Bahkan untuk kebutuhan transportasi dan akomodasi lomba luar kota, keluarga harus berinisiatif sendiri.
Pada beberapa event sebelumnya, dukungan sempat datang dari pihak luar secara personal. Namun untuk keikutsertaan di Hackclub Campfire kali ini, upaya meminta bantuan tidak membuahkan respons.
Situasi ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang sistem pembinaan siswa berprestasi di bidang non-akademik konvensional. Apakah sekolah memiliki mekanisme khusus untuk mendukung talenta digital? Apakah ada skema bantuan atau pendampingan ketika siswa mengikuti kompetisi berbasis teknologi?
Transformasi Digital dan Realitas di Daerah
Di tingkat nasional, penguatan sumber daya manusia digital menjadi agenda strategis. Coding, pengembangan aplikasi, dan industri kreatif digital disebut sebagai sektor masa depan.
Namun realitas di daerah menunjukkan bahwa talenta muda kerap bergerak lebih cepat dibanding sistem yang menaunginya.
Partisipasi Arkanurrizky dalam Hackclub Campfire menjadi contoh konkret bahwa anak daerah memiliki kapasitas untuk bersaing di ruang nasional bahkan global. Akan tetapi, tanpa dukungan yang terstruktur, perjalanan tersebut berpotensi bergantung sepenuhnya pada kemampuan keluarga masing-masing.
Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin akan muncul kesenjangan akses bagi siswa berbakat yang memiliki keterbatasan finansial.
Momentum Refleksi
Kisah ini bukan untuk menyudutkan, melainkan menjadi momentum refleksi. Dunia pendidikan kini memasuki era di mana prestasi tidak lagi hanya diukur dari nilai akademik atau perlombaan tradisional.
Ajang seperti Hackclub Campfire menunjukkan bahwa kompetensi abad 21 lahir dari kolaborasi, kreativitas, dan keberanian mencoba.
Arkanurrizky telah menunjukkan inisiatif dan konsistensi. Ia melangkah dari Kota Tasikmalaya menuju Jakarta demi mengasah kemampuannya. Kini, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sistem di sekitarnya merespons langkah tersebut.
Jika talenta digital benar-benar ingin dikembangkan, maka dukungan konkret bukan lagi sekadar wacana. Apresiasi formal, pembinaan, hingga fasilitasi keikutsertaan dalam event nasional bisa menjadi langkah awal.
Perjalanan dua hari di Hackclub Campfire mungkin singkat. Namun pesan yang dibawanya jauh lebih panjang: bahwa masa depan digital Indonesia juga sedang dibangun oleh anak-anak daerah yang berani melangkah—meski belum selalu mendapat sorotan. (red)



