Longsor di Cisarua Bandung Barat melanda kawasan permukiman warga dini hari

Suara Kebangsaan, Berita Bandung Barat – Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat mengguncang kawasan permukiman warga di Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari. Longsor yang disertai aliran air deras tersebut menerjang permukiman saat sebagian besar warga masih terlelap, setidaknya sampai saat berita ini diturunkan tercatat 6 (enam) orang meninggal dunia dan puluhan lainnya diduga masih tertimbun material longsoran.

Data sementara yang dihimpun hingga Sabtu siang mencatat sebanyak 89 warga belum ditemukan dan diduga tertimbun tanah, bebatuan, serta lumpur yang meluncur dari lereng di sekitar permukiman. Proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung di tengah medan yang sulit dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat.

Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, yang turun langsung ke lokasi bencana menyebutkan bahwa data tersebut berasal dari laporan Linmas dan pemerintah desa setempat.
“Informasi yang saya terima, yang sudah dipastikan meninggal dunia ada lima orang, sementara 89 orang lainnya belum ditemukan dan diduga tertimbun longsoran,” ujar Asep di lokasi kejadian.

Permukiman Tertutup Material, Evakuasi Berpacu dengan Waktu

Dampak longsor sangat signifikan. Sedikitnya 20 rumah warga di Kampung Babakan RT 05 RW 11 terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, hanya satu rumah yang dilaporkan masih berdiri, sementara sisanya tertimbun material longsor dengan ketebalan yang bervariasi.

Material tanah dan bebatuan menutup hampir seluruh area permukiman, membuat akses menuju titik-titik korban menjadi sangat terbatas. Medan yang curam, licin, dan tidak stabil menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Setiap langkah evakuasi dilakukan dengan ekstra hati-hati untuk menghindari risiko longsor susulan.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Bandung Barat, TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Alat berat mulai diturunkan secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi medan agar tidak membahayakan korban yang diduga masih hidup di bawah timbunan.

“Tim SAR terus bekerja di lapangan. Kami berharap seluruh korban bisa segera ditemukan dan dievakuasi,” kata Asep.

Pengungsian Warga dan Kepedulian Kemanusiaan

Untuk penanganan warga terdampak, pemerintah daerah telah menyiapkan lokasi pengungsian sementara di wilayah Desa Pasirlangu. Warga yang selamat dievakuasi guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan, mengingat kondisi tanah masih labil akibat curah hujan tinggi.

Asep Ismail memastikan kesiapan lokasi pengungsian bersama Camat Cisarua, termasuk ketersediaan kebutuhan dasar bagi para pengungsi. Namun di tengah situasi darurat ini, kepedulian semua pihak menjadi faktor penting dalam meringankan beban para korban.

Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat ini bukan sekadar angka korban dan rumah rusak, tetapi tragedi kemanusiaan yang menyisakan duka mendalam. Banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya, kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan seluruh harta benda dalam hitungan menit.

Peristiwa ini menjadi panggilan nurani bagi masyarakat luas untuk peduli. Bantuan logistik, kebutuhan darurat, hingga dukungan moril sangat dibutuhkan oleh para korban yang kini bertahan di pengungsian.

Imbauan Waspada di Tengah Cuaca Ekstrem

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana, untuk meningkatkan kewaspadaan. Kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi masih berpotensi memicu bencana serupa.

“Kesiapsiagaan menjadi hal utama. Kami meminta masyarakat untuk segera melapor dan mengungsi jika melihat tanda-tanda longsor,” ujar Asep.

Hingga kini, proses pencarian korban masih terus dilakukan. Waktu, cuaca, dan kondisi medan menjadi faktor penentu. Di tengah upaya penyelamatan, harapan dan kepedulian publik menjadi energi penting bagi para korban dan petugas di lapangan.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan hasil pengamatan awal di lokasi menunjukkan adanya alih fungsi lahan. Kawasan yang sebelumnya merupakan hutan atau kebun dengan tanaman keras, kini berubah menjadi lahan pertanian palawija.

“Kawasan ini dulunya ditanami tanaman keras. Namun saat ini sebagian besar sudah menjadi kebun palawija. Ketika hujan deras turun, ditambah adanya aliran air meskipun kecil, sangat dimungkinkan terjadi bendungan alami dari batu dan kayu yang kemudian jebol,” ujar Herman saat meninjau lokasi longsor, Sabtu, 24 Januari 2026.(red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *