Tag: Strategi hemat energi

  • WFH bagi ASN Usai Lebaran 2026: Siapa Untung, Siapa Rugi?

    WFH bagi ASN Usai Lebaran 2026: Siapa Untung, Siapa Rugi?

    Suara Kebangsaan, BERITA NASIONALKebijakan WFH bagi ASN selama satu hari dalam sepekan yang akan diterapkan usai Lebaran 2026 kini memasuki tahap finalisasi.

    Pemerintah mengklaim langkah ini sebagai strategi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak global.

    Namun di balik narasi efisiensi energi, muncul pertanyaan krusial: siapa sebenarnya yang diuntungkan, dan siapa yang harus menanggung dampaknya?

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan kebijakan tetap berjalan.

    “WFH akan didetailkan, tetapi sesudah Lebaran kita akan berlakukan,” ujarnya.

    Kebijakan ini berlaku bagi ASN dan diimbau untuk diikuti sektor swasta, dengan pengecualian layanan publik.

    Efek Untung dan Rugi Kebijakan WFH

    Siapa yang Diuntungkan?

    1. Pemerintah dan Tekanan Subsidi Energi
      Penerapan WFH bagi ASN jelas diarahkan untuk menekan konsumsi BBM. Dengan berkurangnya mobilitas pekerja, pemerintah berharap beban subsidi energi dapat ditekan.
      Estimasi awal menyebut potensi penghematan mencapai sekitar 20 persen, meski angka ini masih bersifat asumsi.
      Jika efektif, kebijakan ini bisa menjadi “rem darurat” bagi anggaran negara di tengah harga minyak yang menembus US$100 per barel.
    2. Pekerja Kantoran (Sebagian)
      Bagi sebagian ASN dan pekerja swasta, WFH berarti efisiensi biaya transportasi, waktu perjalanan, dan fleksibilitas kerja.
      Dalam konteks kota besar, satu hari tanpa perjalanan ke kantor bisa berarti penghematan yang cukup signifikan setiap bulan.
      Namun keuntungan ini tidak berlaku merata di semua sektor.

    Siapa yang Dirugikan?

    1. UMKM dan Ekonomi Pinggiran Kantor
      Dampak paling cepat terasa justru di sektor informal. Warung makan, pedagang kaki lima, hingga pelaku usaha kecil di sekitar perkantoran berpotensi kehilangan pelanggan.
      Penurunan satu hari aktivitas saja bisa langsung menggerus omzet harian mereka.
      Efeknya mungkin terlihat kecil di permukaan, tetapi jika terjadi secara masif, dampaknya bisa menjalar ke ekonomi lokal.
    2. Transportasi dan Ojek Online
      Berkurangnya mobilitas pekerja otomatis menekan permintaan jasa transportasi, termasuk ojek online dan angkutan umum non-subsidi.
      Padahal sektor ini sangat bergantung pada ritme aktivitas harian pekerja kantoran.
    3. Risiko Produktivitas di Sektor Tertentu
      Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara optimal dari rumah. Sektor manufaktur dan pekerjaan berbasis operasional berisiko mengalami penurunan produktivitas jika kebijakan diterapkan secara seragam.
      Ini menjadi tantangan serius jika tidak ada fleksibilitas dalam implementasi.

    Celah Kebijakan: WFH Berubah Jadi WFE

    Di luar hitung-hitungan ekonomi, ada persoalan mendasar yang mengintai: perilaku.
    Pengamat menilai, tanpa pengawasan ketat, WFH bagi ASN berpotensi berubah menjadi Work From Everywhere (WFE).

    Alih-alih bekerja dari rumah, pekerja bisa memanfaatkan hari tersebut untuk bepergian atau bahkan berwisata.

    Jika skenario ini terjadi, tujuan utama penghematan BBM justru gagal tercapai.

    Berbeda dengan masa pandemi, saat ini tidak ada faktor “pemaksa” yang membuat orang benar-benar membatasi mobilitas.

    Laman: 1 2