Tag: Viman Alfarizi Ramadhan

  • Banjir di Tasikmalaya: 22 Rumah Terendam, Pemkot Temukan Penyebabnya

    Banjir di Tasikmalaya: 22 Rumah Terendam, Pemkot Temukan Penyebabnya

    Suara Kebangsaan, BERITA TASIKMALAYABanjir di Tasikmalaya kembali merendam puluhan rumah warga setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi di kawasan Cikalang Pesantren, dengan sedikitnya 22 rumah terdampak genangan air.

    Wali Kota Tinjau Lokasi Terdampak

    Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, melakukan peninjauan langsung ke titik terdampak banjir. Ia bersama tim gabungan menelusuri aliran sungai di kawasan Gunung Mindi untuk mengidentifikasi penyebab utama meluapnya air.

    Hasil pemantauan menunjukkan adanya gangguan pada sistem pintu air yang membuat aliran tidak berjalan optimal saat debit air meningkat.

    Curah Hujan Tinggi dan Infrastruktur Jadi Pemicu

    Banjir di Tasikmalaya kali ini tidak hanya dipicu oleh hujan ekstrem, tetapi juga karena infrastruktur pengendalian air yang belum berfungsi maksimal. Kondisi tersebut menyebabkan air tidak dapat mengalir dengan baik dan akhirnya meluber ke permukiman warga.

    Pemerintah menilai perlu adanya penanganan teknis untuk memastikan air dapat segera dialirkan menuju titik pembuangan yang aman.

    Penanganan Cepat Libatkan Tim Gabungan

    Dalam upaya penanganan, Pemkot Tasikmalaya melibatkan berbagai unsur TNI, Polri, BPBD, serta Dinas PUTR, Dinas Perwaskim dan dinas terkait lainnya . Fokus utama saat ini adalah membersihkan area terdampak dan mempercepat normalisasi saluran air.

    Warga setempat juga diajak berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong guna mempercepat pemulihan pascabanjir.

    Evaluasi untuk Antisipasi Banjir Berulang

    Sebagai langkah ke depan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengendalian banjir. Perbaikan pintu air serta penataan aliran sungai menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang. (red)

  • Wali Kota Tasikmalaya: “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan”, Wujud Kebersamaan Ramadan

    Wali Kota Tasikmalaya: “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan”, Wujud Kebersamaan Ramadan

    Suara Kebangsaan, BERITA TASIKMALAYA Minggu, 1 Maret 2026, suasana sore di kawasan Taman Kota Tasikmalaya tampak berbeda dari biasanya. Menjelang waktu berbuka puasa, ratusan warga yang melintas dikejutkan dengan kehadiran jajaran Pemerintah Kota Tasikmalaya yang membagikan takjil secara langsung. Kegiatan bertajuk “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan” ini dipimpin langsung oleh Viman Alfarizi Ramadhan bersama para stakeholder Pemkot Tasikmalaya.

    Program “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan” menjadi simbol kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat, khususnya dalam momentum bulan suci Ramadan. Tak sekadar membagikan makanan pembuka puasa, kegiatan ini juga membawa pesan kuat tentang kebersamaan, silaturahmi, dan semangat berbagi.


    Makna “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan” bagi Warga Tasikmalaya

    Secara harfiah, “ngabatalan” berarti berbuka puasa, sedangkan “ngabagikeun” berarti membagikan. Konsep sederhana namun sarat makna ini diwujudkan dalam aksi nyata di ruang publik. Melalui “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan”, pemerintah hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya dalam forum resmi, tetapi langsung di tengah aktivitas warga.

    Wali Kota Tasikmalaya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ajakan kepada seluruh unsur pemerintah untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan dan keberkahan Ramadan. Momentum ini dinilai tepat untuk mempererat hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat.

    Tak sedikit warga yang menyambut hangat kegiatan tersebut. Mereka merasa dihargai dan diperhatikan, terutama karena pembagian takjil dilakukan secara langsung oleh wali kota dan jajaran pejabat daerah.


    Wali Kota dan Stakeholder Turun Langsung ke Lapangan

    Kehadiran Viman Alfarizi Ramadhan bersama unsur Forkopimda dan perangkat daerah lainnya menambah kesan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Mereka tampak berbaur, menyapa pengendara motor, pejalan kaki, hingga keluarga yang tengah bersantai di Taman Kota.

    Interaksi yang terjalin berlangsung hangat dan penuh keakraban. Warga yang menerima takjil tidak hanya mendapatkan makanan untuk berbuka, tetapi juga kesempatan berdialog langsung dengan kepala daerah.

    Dalam keterangannya, wali kota menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi budaya positif yang terus berlanjut setiap Ramadan. Menurutnya, kepedulian sosial harus menjadi karakter bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.


    Ramadan sebagai Momentum Penguatan Silaturahmi

    Bulan suci Ramadan selalu menjadi momen istimewa untuk mempererat tali persaudaraan. Melalui “Ngabatalan – Ngabagikeun Takjil di Jalan”, Pemerintah Kota Tasikmalaya menunjukkan komitmennya dalam membangun hubungan yang lebih humanis dengan masyarakat.

    Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pelayanan publik yang lebih dekat dan responsif. Pemerintah tidak hanya fokus pada program administratif, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kebersamaan.

    Semangat berbagi yang ditanamkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi komunitas, organisasi, hingga pelaku usaha di Tasikmalaya untuk melakukan hal serupa. Dengan demikian, dampak positif Ramadan dapat dirasakan lebih luas.

  • Mosi Tidak Percaya Menguat, Kepemimpinan Viman–Dicky Diuji Publik

    Mosi Tidak Percaya Menguat, Kepemimpinan Viman–Dicky Diuji Publik

    Suara Kebangsaan, BERITA TASIKMALAYAMenjelang genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan dan Diky Candra, dinamika politik lokal menunjukkan eskalasi yang tidak bisa dipandang ringan. Rencana aksi unjuk rasa bertajuk Mosi Tidak Percaya Viman yang digagas Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Kota Tasikmalaya menandai fase baru relasi antara pemerintah daerah dan publik.

    Berbeda dengan kritik sporadis yang muncul sebelumnya, aksi ini dirancang secara terorganisir, terstruktur, dan terbuka. Penggunaan tagar sebagai simbol gerakan memperlihatkan bahwa kritik kini tidak hanya hadir di ruang jalanan, tetapi juga menguat di ruang digital, memperluas resonansinya ke masyarakat yang lebih luas.

    Dalam konteks demokrasi lokal, unjuk rasa semacam ini dapat dibaca sebagai instrumen evaluasi publik—sebuah alarm sosial yang menandai adanya jarak persepsi antara arah kebijakan pemerintah daerah dan harapan warga.

    Satu Tahun Kepemimpinan, Saatnya Uji Konsistensi

    Sapma PP menilai satu tahun merupakan rentang waktu yang cukup untuk melakukan evaluasi awal terhadap kepemimpinan daerah. Ukuran evaluasi tidak semata berbasis pada janji politik, melainkan pada konsistensi kebijakan, keberpihakan program, serta kualitas komunikasi publik yang dibangun Pemkot Tasikmalaya.

    Dalam berbagai kesempatan, duet Viman–Dicky mengusung narasi perubahan dan penguatan pelayanan publik. Namun, munculnya aksi mosi tidak percaya mengindikasikan bahwa sebagian elemen masyarakat merasa implementasi kebijakan belum menyentuh persoalan mendasar yang mereka hadapi sehari-hari.

    Kritik tersebut, menurut penggagas aksi, bukan sekadar penolakan personal terhadap figur pimpinan daerah, melainkan ekspresi ketidakpuasan terhadap arah kebijakan yang dinilai belum responsif dan belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan publik secara luas.

    Duet Kepemimpinan di Bawah Sorotan

    Sebagai pemimpin daerah, Viman dan Dicky tidak hanya dinilai secara individual, tetapi sebagai satu kesatuan duet kepemimpinan. Harmoni visi, efektivitas koordinasi, dan kejelasan pembagian peran menjadi faktor penting dalam memastikan roda pemerintahan berjalan optimal.

    Aksi unjuk rasa ini secara tidak langsung menempatkan duet tersebut di bawah sorotan tajam publik. Bukan lagi soal popularitas, melainkan soal kapasitas kepemimpinan dalam merespons kritik, membuka ruang dialog, serta melakukan koreksi kebijakan jika diperlukan.

    Dalam sistem demokrasi lokal yang sehat, kritik publik seharusnya diposisikan sebagai bahan refleksi, bukan ancaman. Pemerintah daerah diuji bukan dari seberapa kuat mereka menahan kritik, melainkan seberapa matang mereka mengelola dan menindaklanjutinya.

    Ujian Responsivitas Pemkot Tasikmalaya

    Lebih jauh, aksi ini menjadi ujian serius bagi Pemkot Tasikmalaya secara institusional. Apakah pemerintah daerah akan merespons dengan pendekatan dialogis dan transparan, atau justru bersikap defensif dan menutup diri.

    Isu utama yang diangkat dalam aksi bertajuk Tasik Usik: Tasikmalaya Darurat Kebijakan menunjukkan adanya akumulasi kegelisahan publik. Ini menandakan bahwa persoalan yang disorot bukan berdiri sendiri, melainkan terkait dengan pola kebijakan yang dinilai belum menjawab kebutuhan masyarakat.

    Jika tidak dikelola dengan tepat, gelombang kritik semacam ini berpotensi memperlebar jarak kepercayaan antara warga dan pemerintah daerah. Sebaliknya, bila dijadikan momentum perbaikan, ia justru bisa menjadi titik balik penguatan legitimasi kepemimpinan.

    Antara Tekanan Politik dan Peluang Perbaikan

    Menjelang tahun kedua kepemimpinan, Viman–Dicky dihadapkan pada pilihan strategis: melihat aksi mosi tidak percaya sebagai tekanan politik semata, atau sebagai peluang untuk memperbaiki arah kebijakan dan memperkuat komunikasi publik.

    Kepercayaan publik tidak dibangun melalui citra, melainkan melalui kebijakan yang terasa dampaknya dan kepemimpinan yang mau mendengar. Aksi ini menjadi pengingat bahwa legitimasi pemerintahan daerah selalu bersifat dinamis—terus diuji oleh realitas sosial dan persepsi warga. (red)